Kritikku Harimauku
Mengkritik itu mudah. Hal ini terasa
betul sepanjang dua bulan yang silam (Juni dan Juli 2014), ketika
perhatian sebagian besar masyarakat tertuju pada momen pemilihan
presiden dan piala dunia. Seketika orang-orang “paham betul” bagaimana
cara berpolitik, dan bagaimana cara bermain bola. Rasanya tak perlu
pendidikan atau pengalaman khusus untuk dapat menjadi komentator.
Seperti halnya mengeluh, mengkritik
lebih mudah dilakukan karena memberikan kepuasan tersendiri pada ego
kita sebagai manusia. Kritik menempatkan kita pada posisi yang superior,
“lebih tahu” tentang hal yang kita kritisi. Lewat kritik kita, kita
dapat menyorot pihak yang harus membenahi diri dan menyelesaikan masalah
yang menjadi perhatian kita. Padahal sesungguhnya ketika kita
mengkritik sesuatu, kita ikut mempunyai tanggung jawab yang besar atas
hal yang kita komentari.
Penulis Oscar Wilde pernah berkata, “Kritik adalah satu-satunya bentuk otobiografi yang terpercaya.”
Kritik kita sesungguhnya lebih banyak mencerminkan siapa dan bagaimana
diri kita, daripada orang atau hal yang kita kritik. Karenanya, ketika
kita memutuskan untuk mengkritik sesuatu, kita sedang mengambil tanggung
jawab yang besar; pertama, tanggung jawab akan diri kita sendiri; dan
selanjutnya akan apa yang kita kritisi.
Kritik kita mempertaruhkan kredibilitas
kita. Sumber berita yang kita ambil sebagai dasar kritik kita, hal yang
menjadi sorotan utama kita (apakah kita fokus terhadap “pribadi” atau
“sikap/kinerja”?), bahasa yang kita gunakan untuk mengkritik; semua
menunjukkan etos kita sendiri. Anda tentu pernah mengalami menjadi kagum
terhadap seseorang setelah mendengar paparannya akan suatu masalah.
Atau sebaliknya menjadi kehilangan respek terhadap seseorang akibat
caranya mengomentari suatu hal.
Selanjutnya, ketika kita mengkritik,
kita pun bertanggung jawab untuk membantu menyelesaikan masalah yang
ada. Saat kita menyadari tanggung jawab ini, kritik kita akan berubah
menjadi sebuah umpan balik; pintu untuk berdiskusi dan bekerja sama
menuju kondisi yang lebih baik.
Jika kritik berfokus pada kesalahan,
mengecilkan orang lain, dan menempatkan diri (kritikus) sebagai pengawas
atau pengamat; maka umpan balik berfokus pada ruang untuk perbaikan,
menyemangati orang lain, dan menempatkan diri sebagai rekan kerja yang
berusaha bersama merah kondisi yang lebih baik.
Berbeda dengan kritik, umpan balik
menuntut kita untuk secara konsisten memperhatikan dan memperjuangkan
perbaikan atas kondisi yang kita komentari. Kita bertanggung jawab untuk
tidak hanya mengeluarkan status/pernyataan di saat isu sedang panas
saja, tetapi juga memberi saran, memantau, dan jika memungkinkan,
melakukan aksi sampai terjadi perubahan ke arah yang lebih baik.
Sayangnya, contoh kebiasaan mengkritik yang tak bertanggung jawab masih banyak kita temui di antara tokoh masyarakat kita. Koar-koar
yang keluar dari mulut mereka untuk mengkritik pemerintahan seringkali
tidak diiringi peran aktif mereka dalam memperbaiki kondisi yang mereka
kritisi.
Orang-orang ini tidak turun ke lapangan
untuk menunjukkan bagaimana seharusnya jalannya sistem yang mereka
kritisi. Mereka tak datang kepada masyarakat untuk menklarifikasi hal
yang mereka komentari, dan bersama-sama mencari jalan keluar.
Kritik mereka akhirnya terlihat hanya
didasari kepentingan pribadi atau golongan, dan bukan motivasi yang
tulus ingin memperbaiki keadaan. Apalagi ketika kritik mereka baru ramai
terdengar menjelang masa pemilihan saja.
Menyambut hari jadi Indonesia yang
ke-69, dan dimulainya periode kerja presiden yang telah terpilih,
rasanya tepat jika kita membenahi cara kita menunjukkan kepedulian kita
terhadap kinerja pemerintah dan kehidupan bermasyarakat. Tak hanya
menjadi kritikus yang omong besar tanpa tindakan, dan tak hanya menjadi kritikus musiman.
Sumber:
http://www.psychologytoday.com/blog/anger-in-the-age-entitlement/201404/whats-wrong-criticism
http://www.huffingtonpost.com/donna-labermeier/negative-impact-of-criticism-_b_3829346.html
